Aku masih saja heran..
Heran pada diriku sendiri.
Aku masih saja memaksa hati ini walau dia terluka
Aku menyayangi orang lain, tapi aku tak menyayangi diriku
sendiri
Jika saja luka tak berdarah itu terlihat dengan mata
telanjang
Maka kau akan bergidig melihat hatiku yang remuk redam
dengan lukanya yang menganga hebat
Bahkan mungkin ia tak berbentuk, hancur dan menjijikan.
Aku juga heran terhadap Tuhan,
Sudah kuminta Ia dalam doa agar menghilangkan perasaan
sendiri yang ku rasa ini
Tapi dengan kuasa-Nya, Ia masih saja—tetap membiarkan
perasaan yang sejak awal ku tolak itu.
Pertanda atau bukan, aku tetap berusaha memerdekakan hatiku
ini
Agar siapapun tak berdiam disana dan menjajah nalarku untuk
jadi gila.
Ini tak adil !!!
Semisal di kepalaku hanya ada kau, tapi di kepala kau ada
orang lain pula yang silih berganti mengisi hati.
Jika ini bukan mauku, apa ini mau Tuhan? Tapi mengapa?
Kau tahu?! Aku sampai sesak sendiri menulis tulisan ini,
mataku berkaca karena kesal. Aku benci, tapi tak tahu siapa yang ku benci.
Seandainya bisa, aku memilih untuk tidak mengenal kau saja!
Kota kecil yang katamu pelosok,
23 Juni 2018 pukul 10:06
Tertanda,
Wanita yang hampir tua menunggu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar